Jam dinding sudah berdentang dua
kali. Setengah malam telah terlewati. Sri masih duduk tepekur di sudut kamar.
Matanya sembab. Ia belum berhasil memejamkan mata. Ia beringsut ke depan cermin
yang menempel di dinding kamar. Ia menangis sejadi-jadinya karena orang tuanya
yang telah pergi untuk selamanya. Meninggalkannya dalam kesendirian. Kedua
orang tuanya direnggut darinya karena kecelakaan yang sangat tragis. Sekarang
dirinya hanya hidup bersama adik kecilnya yang bernama Lestari yang masih
belia.
Ditemukannya surat wasiat yang
mengatakan bahwa mereka harus hidup bersama Adi , adik ayahnya. Kemudian mereka
pergi ke rumah pak Adi. Disana mereka arungi kehidupan dengan menumpang di
rumah saudara mereka. Walaupun mereka diterima dengan baik tapi mereka tetap
merasa tidak enak hati hanya hidup menumpang sebagai “parasit”. Akhirnya Sri
bertekad untuk bekerja untuk membantu perekonomian keluarga Pak Adi yang bisa
dibilang “belangsak”.
Perjuangan Sri dimulai dengan
berjualan gorengan keliling yang modalnya berasal dari pinjaman tetangga Pak
Adi, oleh sebab itu mereka hanya mendapat keuntunan yang tidak seberapa dan
modal tetap harus dikembalikan. Pertama berjualan Sri hanya mendapat keuntungan
sebesar Rp.5000,00. Ia tekuni pekerjaan itu hingga akhirnya keuntungannya
berlipat dan akhirnya ia bisa membeli gerobak untuk berjualan gorengan. Lama
kelamaan omset jualannya mencapai 200ribu. Dan akibatnya , mereka dapat
mengangkat perekonomian Pak Adi. Sekarang mereka dapat tersenyum lebar
mengetahui mereka bukan lagi “benalu” melainkan sudah menjadi “malaikat
penyelamat” bagi kehidupan Pak Adi